BABINSA KORAMIL 03/PARONGIL SUKSES BUDIDAYA TERONG TELUNJUK/TAUCO WARNA UNGU
Kopral Kepala (Kopka) Hadi Saputra Babinsa Koramil 03/Parongil Jajaran Kodim 0206/Dairi sepulang dari melaksanakan dinas membina warga di desa binaan nya sebagai Babinsa, Kopka Hadi Saputra memamfaatkan lahan kosong di pekarangan sekitar asrama Kodim 0206/Dairi, Jl Sudirman Sidikalang dengan membudidayakan terong telunjuk/tauco.
Kopka Hadi saputra mengatakan, " Budidaya terong telunjuk/tauco warna ungu adalah varitas baru dari hasil perkawinan silang terong telunjuk biasa dengan membudidayakan terong telunjuk ungu ini, dapat menjadi tabungan pendidikan saat mendesak bagi anak-anaknya.
Pada sore hari, tampak Kopka Hadi saputra yang masih berseragam dinas lengkap kebanggaannya, dan Ban kengan bertuliskan BABINSA di lengan kiri, tengah asik menguntingi daun sambil memanem tanam terong telunjuk warna ungu. Diperkirakan tanaman terong telunjuk ungu tersebut baru berusia 120 hari, tiap batang terong terus berbuah.
Sementara di belakang rumah dinasnya, tampak lahan kosong yang siap untuk ditanami terong telunjuk ungu yang baru, lengkap dengan lahan penyemaian bibit.
Kopka Hadi Saputra adalah seorang Babinsa Koramil-03/Parongil dan Saat ini Kopka Hadi Saputra menempati rumah Dinas TNI. Istrinya merupakan anggota Persit KCK Rangting 4 Koramil 03/Parongil Cabang XLII Kodim 0206/Dairi dan juga membuka kantin di depan lapangan sudirman sidikalang.
Kopka Hadi Saputra mengatakan memilih menanam tanaman muda, seperti terong telunjuk Varitas yang baru berwarna ungu lantaran kondisi lahan yang tidak begitu luas. Kemudian, hanya memamfaatkan lahan kosong disekitar asrama untuk ditanami dengan tanaman muda seperti terong telunjuk ungu, Kol, dan cabai.
“Lahan kecil, kalau ditanami jagung tidak mungkin, akan besar pokok daripada laba. Lagian jagung harus tunggu empat bulan. Kalau tanaman terong atau cabe dapat kita petik hasilnya tiap minggu,” ujar Kopka Hadi Saputra.
Dikatakan Kopka Hadi Saputra, "saat ini ia tengah membudidayakan terong telunjuk ungu miliknya, setidaknya ada 1000 batang yang sudah berbuah,” kata dia.
Untuk bibit, Kopka Hadi mengaku menggunakan bibit yang disemaikan sendiri. “Untuk periode yang ini pakai tampang yang sudah jadi dari perkawinan silang terong telunjuk dengan terong ungu. Untuk lahan yang ini, bibitnya disemai sendiri, itu tempat penyemaiannya,” tutur Kopka Hadi.
Mengenai perawatan, Kopka Hadi menyebut membudidayakan tanaman terong telunjuk warna ungu tidak membutuhkan kerja keras, lebih-lebih kabupaten Dairi cuaca dan iklimnya dingin. Dikatakan, dirinya tidak perlu repot repit untuk menyirami tiap batang terong lagi karena sering turun hujan,” imbuh dia.
Meskipun begitu, dari pengalamannya menanam terong selama ini, ia menemukan bahwa tanaman terong varitas baru ini yang berwarna ungu justru tidak bisa jika terlalu banyak terkena air. Artinya, tanaman terong tidak cocok ditanami di lahan yang terlalu banyak mengandung air.
Sementara itu, untuk pemupukannya juga perlu diperhatikan. Setelah bibit ditanam ke lahan, dan usianya paling lama 30 hari, pemupukan sudah harus dilakukan.
“Jika perawatannya dijaga dengan baik, usia terong dua bulan sudah bisa dilakukan panen, dan umurnya bisa lebih dari setahun,” terang dia.
Untuk pupuk yang diperlukan, sambung dia lagi, pada masa awal adalah pemupukan lubang tanam menggunakan pupuk kandang. Kemudian usia sebulan dilakukan pemupukan batang dengan pupuk urea serta ponska.
“Setelah memasuki masa hampir berbuah, dibutuhkan pemberian pupuk buah. Kemudian pupuk cocor tetap diberikan setiap 10 hari sekali,” ujar Kopka Hadi Saputra.
Untuk menghasilkan tanaman terong telunjuk ungu yang tak henti berbuah, Kopka Hadi punya trik tersendiri. Dijelaskan, setelah panen buah pertama, lakukan pembuangan daun tua, hingga menyisakan pucuknya saja. “Jika ada daun yang mati, segera pangkas, karena itu bisa jadi sumber penyakit dan pembusukan batang dan buah,” jelas dia.
Disebutkan, terong yang tengah berbuah miliknya itu ditanam tiga bulan lalu. Hingga saat ini, dirinya telah memanen buah terong tersebut untuk yang ke 10 kali.
Sementara untuk waktu panen, Kopka Hadi mengaku bisa memanen dua kali dalam seminggu. Satu kali panen bisa menghasilkan 40-50 Kg terong.
“Panen hari ini, besok tidak, besoknya panen, di beri jarak dua hari. Misal hari ini, tiga pematang yang ini, lusanya tiga pematang yang lain,” ujar dia.
Dikatakan hasil panen terong telunjuk milik kopka Hadi Saputra dipasarkan di sejumlah pasar tradisional di kota Sidikalang. Selain itu, juga ada sejumlah pedagang yang datang langsung ke lahan.
“Sekarang harganya naik, kalau saya menjual ke pedagang, itu harganya Rp5 ribu per kilo, pedagang menjualnya tentu di atas harga tersebut, bervariasi, beberapa waktu lalu sempat Rp3 ribu per kilo,” kata dia.
Kopka Hadi mengakui, selain soal sirkulasi pendapatan yang rutin, sembari menanti tanaman lain menghasilkan, menurutnya memamfaatkan serta mengolah lahan sempit dengan tanaman muda adalah pilihan yang tepat.
Dikatakan, dari tanaman terong ungu dirinya bisa memenuhi biaya harian dan menabung untuk biaya pendidikan anak. “Jika tanaman lain, seperti jagung itukan periode panennya dalam hitungan bulan,” ujar dia.
Budidaya tanaman terong telunjuk ungu yang digeluti kopka Hadi sejak tiga bulan yang lalu terbukti berbuah manis. Dikatakan, dari membudidayakan terong telunjuk ungu dirinya bisa menabung untuk keperluan anak-anaknya.
“Kalau dibilang dari hasil terong ini saja tidak begitu juga. Namun, hasil jual terong ini cukup untuk memenuhi kebutuhan dan disimpan untuk biaya pendidikan saat mendesak,” ungkap Kopka Hadi Saputra.